KONFRENSI INTERNASIONAL IACA K-4 DI ISTAMBUL TURKI Jakarta l mahkamahagung.go.id
“It’s great”. Itulah ungkapan Richard Foster, Chief Executive Officer (CEO) Family Court of Australia yang disampaikan kepada Wahyu Widiana, Dirjen Badilag MA-RI, setelah mendengarkan presentasi dari Widayatno Sastro Hardjono, SH, MSC, Tuada Pembinaan MA-RI, pada sidang pleno Konferensi Internasional Ke 4 IACA (International Association for Court Administration) yang diselenggarakan di Istanbul, 2-4 November yang lalu. Widayatno menyampaikan makalah berjudul “Judicial Transparency: An Indonesian Courts Experience”. Dalam presentasi itu disampaikan hal-hal yang telah dicapai oleh Mahkamah Agung selama ini dan tentang Blueprint Mahkamah Agung RI 2010-2034. Widayatno bersama Diana Bryant, Chief Justice Family Court of Australia, berada dalam suatu panel di bawah sub tema “Achieving Greater Transparency in Justice and Court System: Are We Making Progress?”. Tema konferensi itu sendiri adalah “Worldwide Innovations in Court Systems”. Presentasi Widayatno mendapat sambutan positif sebab dengan jelas memperlihatkan capaian-capaian yang telah dilakukan oleh Mahkamah Agung RI dan pengadilan-pengadilan yang berada di bawahnya, terutama dalam soal transparansi dan inovasi sesuai tema konferensi. Presentasi itu juga memperlihatkan perencanaan yang jelas dari MA-RI untuk 25 tahun ke depan, yang dikemas dalam suatu blueprint dengan tahapan-tahapan perencanaan strategis lima tahunan.
Konferensi itu sendiri diadakan dalam rangka mengembangkan kolaborasi dan identifikasi “best practices” dalam pengelolaan pengadilan dan administrasinya. Konferensi yang diselenggarakan di Selat Bosporus yang indah ini dihadiri oleh tidak kurang dari 200 peserta yang datang dari berbagai belahan dunia, seperti dari Amerika Serikat, Canada, Amerika Tengah dan Selatan, Eropa, Rusia, Afrika, Negara-negara Arab, Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, Cina, Jepang dan Australia. Dalam konferensi yang dibuka oleh Menteri Kehakiman Turki, Sadullah Ergin, ini, tidak kurang dari 25 pembicara tampil, baik pada sidang pleno maupun komisi/workshop. Dari Indonesia, selain Widayatno, Tuada Pembinaan, pembicara lainnya adalah Wahyu Widiana, Dirjen Badilag, dengan makalah berjudul “Efforts to Enhance Access to Justice in Indonesian Religious Courts: Strategic Responses to Survey Findings”. Para peserta konferensi lainnya adalah Hakim Agung Marina Sidabutar, Kepala Biro Hukum dan Humas MA-RI Nurhadi, Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Syahrial Sidik, Ketua Pengadilan Pajak Djazoeli Sadhani dan Kasubdit Kasasi Perdata Tin Zuraida. Ada juga dari LSM seperti Eggy, Yudhi dan Messy. Konferensi IACA Regional Asia Pasifik di Indonesia sebagai follow up. Richard Foster, yang dalam konferensi IACA ini terpilih menjadi Wakil Presiden IACA tingkat Internasional (yang konon dalam periode berikutnya otomatis menjadi presidennya, red), sangat tertarik dengan presentasi Widayatno tentang Blueprint Mahkamah Agung RI. Richard minta agar Mahkamah Agung RI menjadi tuan rumah Konferensi IACA Regional Asia Pasifik yang akan diselenggarakan awal tahun 2011 (mengulangi permintaannya beberapa bulan lalu, yang semula konferensi itu direncanakan akhir 2010, red). Richard mengusulkan tema konferensi diambil dari Visi, Misi dan latar belakang Blueprint Mahkamah Agung RI yang dipresentasikan Widayatno. “Persisnya tema itu nanti kita susun, tapi sekitar Court Excellence, yang melatar belakangi Blueprint”, kata Cate Sumner dari IALDF yang juga bersama Richard ikut menemui Widayatno, saat jedah setelah presentasi Widayatno. Widayatno menyambut baik usulan itu. “Akan kami laporkan terlebih dahulu kepada Ketua Mahkamah Agung RI”, ungkap Widayatno, sambil menambahkan bahwa rencana itu di lingkungan Mahkamah Agung RI sudah mulai difikirkan dan dibahas. Konferensi regional yang diusulkan di Indonesia merupakan kepercayaan asosiasi ini kepada dunia pengadilan di Indonesia. Konferensi ini juga dapat dijadikan media bagi Indonesia, untuk memperlihatkan kepada dunia tentang hal-hal yang telah dicapai dan apa yang akan direncanakan oleh dunia pengadilan Indonesia di masa mendatang. (Adli Minfadli Robby/spoof). |